Monday, April 27, 2009

XTools Pro Version 3.20





XTools Pro is one of the most popular and full-featured extensions for ArcGIS Desktop. Originally developed as a set of useful vector spatial analysis, shape conversion and table management tools for ArcView GIS 3.x. XTools extension was then converted by Data East to ESRI ArcGIS environment and now is re-designed, enhanced and extended as XTools Pro to get to the newer level of functionality and performance.

Download XTools Pro Version 3.20

Replace “N” with “U” in ArcGIS North Arrow


How to Customize North Arrow in ArcGIS? That question may bear in your mind. People who are dealing with ArcView know how to customize north arrow in ArcView. We can simply righ-click on it and convert to graphic. In ArcGIS, it is a bit complicated because ArcGIS use FONT as north arrow . Here are the steps how to customise north arrow in ArcGIS.
1. Backup file esri_40.ttf
Go to C:\WINDOWS\Fonts (or any directory you install window). Find esri_40.ttf and paste it in a save place as a backup. If you can not find the file, you can find the name of the font of ESRI North (TrueType).
2. Edit file esri_40.ttf
Edit C:\WINDOWS\Fonts\esri_40.ttf with Advanced Font Viewer 5.1.Googling the software from internet. I did edit the file, I replaced N (north) with U (Utara, means north in Bahasa Indonesia). We can customize as we want.
3. Test the display in ArcGIS layout
Open ArcGIS > Layout > Insert North Arrow. If you see ”north arrow’ you want means you made it. Congratulation! Below is the screenshot of my north arrow.























If you want to try ‘north arrow’ that has been customized by replacing “N” with “U” you can download here http://www.ziddu.com/download/4109104/esri_40.zip.html

REMEMBER GUYS IT MUST BE TO RESTART COMPUTER AND YOU CAN ENJOY IT..!!!!

Sunday, April 12, 2009

INDERAJA, Alternatif Perbaiki Hutan

Tingkat kerusakan hutan saat ini bisa dikategorikan cukup parah. Akan tetapi cara penanggulangan untuk meminimalisir tingkat kerusakan hutan tersebut nampaknya belum optimal. Oleh karena itu Himpunan Mahasiswa Geomatika, adakan Simposium yang bertajuk Menyusun Arah Kebijakan Hutan yang Ideal Berbasis Pencitraan Jauh, pada hari Selasa, (24/3). Dalam acara simposium nasional tersebut dipaparkan alternatif cara untuk menyelamatkan hutan dengan teknologi penginderaan jauh.
Pasca Sarjana, ITS Online - Menurut Bambang Catur Nusantara, Direktur Ekskutif WALHI Jawa Timur dalam Simposium ‘What Can We Do for Indonesian Forest’ yang diadakan oleh Himpunan mahasiswa Teknik Geomatika,Selasa (24/3) tingkat kerusakan hutan di Indonesia terutama di Jawa Timur cukup parah. ”Hutan di Jawa Timur, mengalami degradasi yang cukup parah hal ini pun semakain diperparah dengan pengelolaan hutan yang buruk,” tutur pria yang kerap disapa Catur ini.

Menurut pengamatan WALHI, sejauh ini Masih belum ada tingkat penyelamatan secara radikal oleh instansi terkait ”Adapun tingkat penyelamatan hutan itu sendiri masih hanya sebatas kesadaran masyarakat sekitar,” tambah Catur.

Menurut Prof Dr Aris Poniman Kertopermono, penginderaan jarak jauh dapat dijadikan sebagai salah satu kebijakan penglolaan hutan. ”Dengan Inderaja (Penginderaan Jauh, Red) kita dapat mengevaluasi titik point kerusakan hutan yang ada di suatu daerah,” tutur Aris, Deputi Survei Dasar dan Sumber Daya Alam, BAKOSURTANAL. ”Namun hingga saat ini, belum adanya penyebaran data yang optimal di setiap instansi yang membutuhkan,” tambah Aris.

Selain itu juga, Ir Nur Hidayat Dipl Ing, menambahkan untuk saat ini sebenarnya LAPAN juga mempunyai teknologi terbarukan yang berbasis penginderaan jarak jauh. ”Namun hambatan yang kami hadapai saat ini yaitu kurangnya SDM yang dapat ditempatkan di daerah terpencil sehingga masih terasa belum optimal,” paparnya.

Dalam acara simposium ini turut pula hadir Ir Dedy Sufredi Msi, yang menggantikan Menteri Kehutanan, M.S Kaban, sebagai keynote speaker. Beberapa hal, yang disampaikan Dedy Sufredi di awal acara merupakan pesan Menteri Kehutanan yang pada waktu itu berhalangan hadir. ”Mengingat kondisi hutan indonesia yang semakin buruk, diharapkan dalam acara ini dapat diambil kesepakatan untuk menyusun arah kebijakan guna memperbaiki hutan,” tuturnya.

Simposium yang digelar di Auditorium Pasca Sarjana ini pun membuahkan beberapa kesepakatan sebagai salah satu tindakan penyelamatan hutan. Diantaranya, diperlukan pengelolaan dan penerimaan data citra satelit yang mandiri, mempercepat tersedia peta seluruh Indonesia guna pengembangan potensi daerah, mengintensifkan hasil data citra satelit serta diperlukan kesatuan dari berbagai instansi untuk saling mnedukung. ”Selain itu pula, tindakan aktif mahasiswa untuk menyelamatkan hutan tidak hanya berupa karya ilmiah,” tutur Dr Ir teguh Hariyanto Dosen Teknik Geomatika ITS , yang turut pula menjadi pemateri dalam simposium nasional tersebut.

Sumber : www.geomatika.its.ac.id